Sabtu, 31 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
theblackcadillacs.comtheblackcadillacs.com
theblackcadillacs.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Anak Saya Nanya Soal Banjir di TV: Cara Keluarga K...

Anak Saya Nanya Soal Banjir di TV: Cara Keluarga Kecil di Kota Cerna Berita

Pengalaman pribadi sebagai orang tua di kota besar saat anak mulai bertanya soal berita di TV, dan pelajaran cara mencerna kabar bareng keluarga kecil.

Anak Saya Nanya Soal Banjir di TV: Cara Keluarga Kecil di Kota Cerna Berita

Malam itu saya lagi lipat cucian di ruang tamu, TV nyala nyuara-nyuarin berita banjir di salah satu ruas jalan tol dalam kota. Tiba-tiba anak saya yang baru kelas 3 SD nyeletuk, "Pah, kita nanti kena banjir juga gak?" Saya kaget. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena saya sadar berita yang cuma lewat sekilas itu udah masuk ke kepalanya dan bikin dia kepikiran.

Dari situ saya mulai mikir. Selama ini saya dan istri nganggep berita itu urusan orang dewasa. Anak-anak biarin aja nonton kartun. Ternyata TV di rumah nggak bisa disaring kayak gitu. Berita masuk lewat celah-celah, kadang dari layar yang sama, kadang dari omongan kita sendiri di meja makan.

Rumah Kecil, Layar Besar, dan Kepala yang Penuh

Kita tinggal di apartemen dua kamar di Jakarta. Nggak besar, tapi cukup buat kami bertiga. Yang bikin repot bukan ukuran rumahnya, tapi jumlah layar di dalamnya. Ada TV di ruang tamu, HP saya, HP istri, plus tablet yang kadang dipakai anak buat belajar. Semua nyambung ke internet. Semua bisa nyalain berita kapan aja.

Baca juga: Blitar dan Kampus Teken MoU Pendidikan

Sebelum kejadian malam itu, saya termasuk orang yang scroll berita sambil rebahan. Istri saya lebih suka nonton berita pagi sambil bikin sarapan. Anak kami? Dia cuma "kebetulan" dengar. Tapi ternyata "kebetulan dengar" itu nggak sepolos yang saya kira. Dia nyimpen potongan-potongannya, lalu diolah sendiri di kepalanya jadi cerita yang kadang jauh dari kenyataan.

Contoh lain, suatu sore dia bilang takut ke sekolah karena "katanya ada penculikan anak". Saya cek, ternyata yang dia dengar di TV itu kasus di kota lain, udah lama, dan pelakunya udah ditangkap. Tapi buat anak umur 8 tahun, semua berita itu rasanya dekat. Nggak ada jarak, nggak ada konteks.

"Anak-anak nggak salah kalau mereka takut. Yang salah kalau kita biarin mereka mikir sendiri tanpa penjelasan."

Kalimat itu keluar dari mulut istri saya waktu kami ngobrol berdua setelah anak tidur. Dan saya ngerasa kena. Selama ini saya sibuk jaga anak dari konten yang nggak pantas, tapi lupa jaga dia dari berita yang nggak dia pahami.

Pelajaran Pertama: Berita Itu Bukan Cuma Buat Kita

Sejak malam itu, saya ubah kebiasaan. Kalau TV nyala dan ada berita, saya nggak lagi pura-pura nggak dengar kalau anak ada di ruangan. Saya coba jadi penerjemah dadakan. Kalau ada berita kecelakaan, saya bilang pelan-pelan, "Ini di tempat lain, jauh dari rumah kita. Petugas udah di sana." Kalau ada berita harga naik, saya jelasin dengan bahasa yang dia ngerti, misal harga telur naik artinya uang jajan nggak berubah tapi ibu harus lebih pintar belanja.

Awalnya canggung. Anak saya kadang cuma nengok lalu lanjut main. Tapi lama-lama dia mulai nanya. Dan pertanyaan-pertanyaannya bikin saya belajar juga. Kadang saya nggak bisa jawab, dan itu nggak apa-apa. Saya bilang aja, "Nanti kita cari bareng ya."

Yang menarik, istri saya jadi ikut berubah. Dia yang biasanya nonton berita sambil masak sekarang suka manggil anak, "Sini, lihat, ada berita soal sekolah." Nggak selalu berhasil, tapi setidaknya kami udah nggak nganggep berita sebagai zona terlarang buat anak.

Yang Kami Lakukan di Rumah (Sederhana Aja)

Kami nggak bikin aturan tertulis atau jadwal khusus. Terlalu ribet buat keluarga kecil yang udah sibuk. Tapi ada beberapa kebiasaan yang pelan-pelan nempel:

  • Matikan TV saat makan malam. Ini aturan paling keras di rumah. Waktu makan itu buat ngobrol, bukan buat nyerap berita.
  • Tanya dulu sebelum jelasin. Kalau anak nanya soal berita, saya tanya balik, "Kamu dengar dari mana? Yang kamu tahu apa?" Biar saya tahu titik awalnya.
  • Bedakan berita jauh dan dekat. Saya selalu bilang, "Ini kejadiannya di mana? Jauh nggak dari rumah kita?" Anak jadi belajar bahwa nggak semua berita soal dia.
  • Jangan bohong, tapi jangan detail berlebihan. Kalau berita soal kekerasan, saya bilang ada orang yang berbuat jahat dan sekarang ditangani polisi. Selesai. Nggak perlu cerita detail yang bikin dia mimpi buruk.

Yang paling penting, kami berhenti panik di depan anak. Dulu kalau ada berita soal kenaikan harga atau kerusuhan, saya dan istri suka refleks ngomong, "Aduh gimana ini." Anak dengar, dan dia ikut cemas tanpa tahu kenapa. Sekarang kami coba tahan dulu, ngobrolnya nanti kalau anak udah tidur.

Pelajaran Kedua: Kita Juga Perlu Belajar Cerna Berita

Jujur aja, saya sendiri nggak selalu pinter baca berita. Kadang saya cuma baca judul, langsung emosi, langsung share ke grup WA keluarga. Padahal isinya belum tentu sesuai judul. Istri saya pernah tegur, "Kamu baca dulu kali, bukan judulnya doang." Sakit tapi bener.

Nah, dari situ saya sadar, kalau mau anak belajar cerna berita, saya dulu yang harus bisa. Saya mulai biasain baca satu berita sampai habis sebelum komentar. Saya cek tanggalnya, cek sumbernya, cek apakah ada berita lain yang bilang hal serupa. Kadang saya nemu berita yang ternyata udah lama, cuma di-repost ulang dan bikin heboh lagi. Itu pelajaran buat saya sendiri.

Istri saya punya cara lain. Dia suka nonton berita dari dua channel berbeda buat satu topik yang sama. Katanya, "Biar kelihatan mana yang dibesar-besarkan." Saya kadang nggak sabar, tapi cara dia ternyata bikin kami lebih tenang. Nggak gampang percaya satu sumber.

Dan anak kami? Dia jadi punya kebiasaan baru yang bikin saya senyum. Kalau dia lihat berita di TV, dia suka nanya, "Itu beneran, Pah? Atau cuma katanya?" Pertanyaan sederhana, tapi buat saya itu tanda dia mulai mikir, bukan cuma nelen.

Yang Saya Pelajari Setelah Setahun

Setahun lebih sejak malam anak saya nanya soal banjir itu, rumah kami nggak berubah jadi rumah yang antiberita. Kami tetap nonton berita, tetap scroll kabar di HP. Tapi ada yang bergeser. Berita bukan lagi suara latar yang lewat gitu aja. Sekarang jadi bahan obrolan, kadang bahan becanda, kadang bahan belajar bareng.

Saya juga belajar bahwa keluarga kecil di kota besar kayak kami nggak bisa ngindarin berita. Terlalu banyak yang nyerobot: di lift, di angkot, di grup WA sekolah, di notifikasi HP. Yang bisa kami lakuin cuma satu, yaitu hadir waktu berita itu mampir ke rumah kami. Nemenin anak mikir, nemenin dia nanya, dan kadang ngaku kalau kita sendiri juga nggak tahu jawabannya.

Kalau kamu juga punya anak kecil di rumah dan sering merasa berita itu cuma buat orang dewasa, coba deh mulai ngobrolin. Nggak perlu pakai teori. Cukup duduk bareng, tanya dia dengar apa, lalu jelasin pelan-pelan. Kadang yang dibutuhin anak bukan jawaban lengkap, tapi tahu bahwa ada orang tua yang siap dengerin pertanyaannya.

Tags: berita keluarga literasi media parenting kota pengalaman pribadi cara baca berita